ANALISIS PEMBERIAN ASI TIDAK EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULA SEBAGAI PENYEBAB GROWTH FALTERING (GONCANGAN PERTUMBUHAN) PADA BAYI

Artikel penelitian ini sudah pernah dimuat di Jurnal Kesmas Indonesia Vol 01 No 02 Juli 2008

Penulis : Dyah Umiyarni Purnamasari, SKM, M.Si

ABSTRACT

Background : Poor growth in infants can be indicated by a decrease in WAZ score, and is started in 2 to 6 month. Growth faltering can be continued to growth failure and it is influenced by baby feeding, such as  breasfeeding and formula feeding. Therefore important to analyses no-exclusive breastfeeding and formula feeding to be determinants factors of growth faltering in infant.

Methods : This Observational study was conducted in a case control design at Kangkung  subdistrict, Kendal district. Cases were  the subjects who had growth faltering, and controls were  the subjects  who had normal growth, both groups of 36 included subject in each group. The determinant variables investigated were no-exclusive breastfeeding and formula feeding, Analysis was conducted by logistic regression and population attribute risk (PAR).

Results : About 49 (69,1%) infants got no-exclusive breastfeeding, and about 22 (30,5%) infants got formula feeding. Based on results bivariat logistic regression analyses, showed that both of signicant: No-exclusive breastfeeding (OR=3.30; 95%CI: 1.15─9.52; PAR=0.61), and formula feeding (OR=2.96; 95%CI: 1.03─8.53 PAR=0.38),

Conclucion and Suggestion: No-exclusive breastfeeding and formula feeding to be determinants factors of growth faltering in infant aged 2-6 months.  It is recommended to transfer knowledge about the importance of exclusive breastfeeding to prevention growth faltering in infancy.

 

Key Words : Growth faltering, No-exclusive breastfeeding, Formula Feeding.

 

 

PENDAHULUAN

Gangguan pada pertumbuhan anak ditunjukkan dengan  pertumbuhan yang  tidak sesuai dengan kurva pertumbuhannya,  yang disebut dengan  growth faltering (King& Burges,1996 ). Bersamaan dengan itu pada growth faltering juga terjadi penurunan skor Z atau standar deviasi anak (Shrimpton et al, 2001).

Growth faltering merupakan suatu kondisi yang harus diwaspadai. Penelitian yang dilakukan oleh Emond et al (2007) menyebutkan bahwa growth faltering berat badan yang diderita pada masa 9 bulan pertama kehidupan akan berdampak pada penurunan IQ ketika umur mencapai   8 tahun. Rerata  penurunan 1 Standar Deviasi akan menurunkan IQ sebesar 0,84 point ketika umur mencapai 8 tahun.

Growth faltering dapat terjadi pada awal kehidupan anak. Penelitian di Indonesia oleh Satoto (1990) di daerah Jepara menunjukkan bahwa growth faltering sering  terjadi pada umur 2-6 bulan. Penelitian yang dilakukan oleh dilakukan oleh Schmidt et al (2002) di 6 desa Jawa Barat menunjukkan bahwa growth faltering sering   terjadi pada umur 6-7 bulan.

Ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi growth faltering. Faktor utamanya berasal dari konsumsi makanan bayi. WHO (2006) telah menetapkan ASI eksklusif 6 bulan sebagai makanan yang terbaik untuk bayi. Tapi pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah. Data Unicef (2006) menyebutkan hanya 40% bayi mendapatkan ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupannya. Adapun menurut data SDKI (2002), pemberian susu formula  meningkat tajam menjadi 32,1 % dari 10,8 % pada tahun 1997. Konsumsi makanan erat hubungannya dengan kualitas pertumbuhan bayi, oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemberian ASI tidak eksklusif dan susu formula terhadap kejadian growth faltering pada bayi. Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang penanganan yang tepat untuk mengatasi growth faltering pada bayi.

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan  observasional dengan disain penelitian kasus-kontrol. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal. Subjek adalah bayi berumur 2-6 bulan. Kasus adalah bayi yang mengalami growth faltering, yaitu mengalami penurunan skor Z dibanding pada penimbangan sebelumnya, dan kontrol adalah bayi yang mengalami pertumbuhan normal, yaitu mempunyai skor Z sama atau mengalami penaikan dibanding penimbangan sebelumnya. Jumlah subjek masing-masing kelompok kasus dan kontrol adalah 36 subjek. Variabel yang diamati meliputi pemberian ASI tidak eksklusif dan  susu formula. Analisis data dengan menggunakan regresi logistik dan perhitungan Population Atribute Risk (PAR).

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebanyak 69,1% (49) dari seluruh  subjek mendapatkan ASI yang tidak eksklusif. Proporsi pemberian ASI tidak eksklusif dan ASI eksklusif pada kelompok growth faltering dan normal dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Proporsi pemberian ASI Tidak Eksklusif dan ASI eksklusif pada Kelompok Growth faltering dan Normal

 

Berdasarkan  gambar 2 dapat dilihat bahwa pada kelompok growth faltering proporsi pemberian ASI tidak eksklusif, lebih banyak daripada pada pertumbuhan normal. Hasil analisis menunjukkan pemberian ASI yang tidak eksklusif merupakan penyebab growth faltering pada bayi umur 2-6 bulan di Kecamatan Kangkung. Bayi yang diberi ASI tidak eksklusif mempunyai risiko 3,30 kali terhadap kejadian  growth faltering. Selanjutnya dilakukan perhitungan Population attribute risk (PAR) untuk menghitung berapa proporsi growth faltering dalam populasi total akan dapat  dicegah bila faktor risiko pemberian ASI yang tidak eksklusif dihilangkan, hasilnya didapatkan PAR=0,61. Dengan demikian dapat disimpulkan 61 % kasus growth faltering dapat dicegah dengan memberikan ASI eksklusif pada bayi umur 2-6 bulan di Kecamatan Kangkung (OR=3,30; 95%CI: 0,11-0,87;  PAR=0,61;  p=0,03).

Penelitian yang dilakukan oleh Alvarado (2005), di Colombia menunjukkan bayi yang diberi ASI tidak eksklusif akan mengalami penambahan berat badan 300 gram  lebih sedikit dalam waktu 1 bulan dibanding  bayi yang disusui ASI eksklusif (p:0,04).   Pada penelitian ini bayi yang diberi ASI tidak eksklusif akan mengalami penambahan berat badan 267 gram lebih sedikit dalam waktu 1 bulan dibanding bayi yang disusi ASI eksklusif.

Jika bayi lapar atau haus, dia akan menyusu lebih sering atau lama, hal ini akan merangsang hormon prolaktin untuk  memproduksi ASI lebih banyak, sehingga kebutuhan optimal bayi untuk pertumbuhan tercukupi (Unicef, 1993).

Penelitian yang dilakukan oleh Suyatno (2000) di Demak,  menunjukkan bayi yang disusui ASI eksklusif akan  mengalami rerata kenaikan  skor Z sebanyak 0,49 SD BB/U dalam waktu 4 bulan, atau rerata 0,12 SD BB/U dalam 1 bulan.

Pada penelitian ini bayi yang diberi ASI eksklusif juga  akan mengalami rerata perubahan skor Z yang lebih tinggi daripada bayi yang diberi susu formula. Rerata skor Z pengukuran sebelumnya pada bayi yang diberi ASI eksklusif adalah -0,10 menjadi 0,097 pada pengukuran saat penelitian, atau mengalami kenaikan 0,19 SD BB/U dalam waktu 1 bulan, sedangkan bayi yang diberi susu formula rerata skor Z pengukuran awal adalah -0,14 menjadi -0,29 pada pengukuran kedua atau  mengalami penurunan 0,15  SD BB/U dalam waktu 1 bulan. Dengan demikian dapat disimpulkan, bayi yang diberi ASI eksklusif akan mempunyai nilai skor Z yang lebih tinggi daripada bayi yang tidak diberi ASI eksklusif. Hal ini juga dapat dilihat dari persentase growth faltering yang lebih rendah yaitu 19,4 % dibanding  bayi yang tidak diberi ASI eksklusif sebanyak 80,6 %.

Sebanyak 30,5 % (22) dari seluruh subjek  diberi susu formula. Proporsi pemberian susu formula  dan tidak  pada kelompok growth faltering dan normal dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 2. Proporsi pemberian Susu Formula dan Tidak  pada Kelompok Growth faltering dan Normal

 

Berdasarkan  gambar 2 dapat dilihat bahwa pada kelompok growth faltering proporsi pemberian susu formula, lebih banyak daripada pada pertumbuhan normal. Hasil analisis menunjukkan susu formula merupakan penyebab kejadian growth faltering. Bayi yang diberi susu formula mempunyai risiko hampir 3 kali lipat terhadap kejadian growth faltering. Selanjutnya dilakukan perhitungan Population attribute risk (PAR) untuk menghitung berapa proporsi growth faltering dalam populasi total akan dapat  dicegah bila faktor risiko pemberian susu formula dihilangkan, hasilnya didapatkan PAR=0,38. Dengan    demikian dapat disimpulkan 38 % kasus growth faltering dapat dicegah dengan tidak memberikan susu formula pada bayi umur 2-6 bulan di Kecamatan Kangkung (OR=2,96; 95%CI: 1,03─8,53; PAR=0,38; p=0,04).

Bayi yang diberi  susu formula akan mengalami growth faltering melalui 2 faktor yaitu tidak mendapatkan cukup energi dan zat gizi lain serta lebih mudah terkena infeksi ( King& Burges, 1996). Bayi tidak mendapat cukup energi, terutama pada bayi-bayi yang masih menyusui ASI dengan ditambah susu formula. Penelitian yang dilakukan oleh Giovanni M, et al (2004) di Italia menunjukkan bahwa pemberian susu formula akan menurunkan durasi menyusu ASI pada bayi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya adalah karena bayi sudah merasa kenyang, produksi ASI yang kurang dan kesulitan adaptasi peralihan gaya menyusu dari menyusu botol kepada menyusu payudara ibu, atau biasa disebut dengan ”bingung puting susu” (Fernandez et al , 1993).

Bayi yang terbiasa menyusu botol akan mengalami bingung puting pada saat menyusu payudara ibu, karena perbedaan gaya menyusu antara botol dan ASI. Pada saat menyusu ASI, seluruh bagian areola  harus semua masuk ke dalam mulut bayi sehingga mulut bayi harus dalam keadaan terbuka lebar, selain itu bayi harus menyedot dengan kuat agar ASI dapat mengalir dengan lancar ke mulutnya. Pada saat  menyusu botol, bayi hanya cukup menempelkan mulut pada ujung botol, dan hanya diperlukan sedikit usaha agar susu formula dapat mengalir ke dalam mulut (Fernandez et al, 1993).

Bayi yang diberi ASI dengan ditambah susu formula akan kesulitan untuk beralih gaya menyusu pada saat menyusu ASI. Bayi  akan cenderung menerapkan gaya menyusu botolnya pada saat menyusu ASI, akibatnya aliran ASI  akan tidak lancar  dan berkurang karena sedotan yang  tidak maksimal, sementara bayi juga sudah terbiasa menyusu secara cepat. Hal ini membuat bayi kemungkinan hanya akan mendapatkan  Foremilk, yaitu ASI yang keluar pada menit pertama, dengan komposisi lebih   banyak mengandung air daripada lemak, sementara Hindmilk yaitu  ASI yang keluar pada menit berikutnya, dengan komposisi  tinggi lemak, tidak sempat diisap oleh bayi, padahal Hindmilk akan lebih dapat mengenyangkan dan memberi energi yang cukup untuk pertumbuhan bayi (Fernandez et al 1993),  akibatnya bayi tersebut akan kekurangan energi dari sumber ASI, di lain pihak, pemberian susu formula belum sesuai dengan kebutuhan bayi, sehingga bayi akan mengalami kekurangan zat-zat gizi untuk pertumbuhannya.

Pada penelitian ini subjek yang mendapatkan susu formula dan mengalami growth faltering sebanyak 41,7% subjek. Walaupun hampir semua subjek masih diberi ASI oleh ibu, tapi jumlah ASI yang diberikan akan menurun dengan pemberian susu formula. Disamping itu, pemberian susu formula ternyata tidak adekuat, frekuensi terbanyak hanya 2 kali sehari, dengan sekali pemberian hanya 2 sendok susu. Oleh karena itu pemberian susu formula merupakan faktor risiko terjadinya growth faltering.

SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan
  2. Pemberian ASI yang tidak eksklusif merupakan faktor risiko kejadian growth faltering. Bayi yang diberi ASI tidak eksklusif mempunyai risiko  3,30 kali terhadap kejadian  growth faltering
  3. Pemberian susu formula merupakan faktor risiko kejadian growth faltering. Bayi yang diberi susu formula mempunyai risiko  2,96 kali lipat terhadap kejadian growth faltering.
  4. Saran
  5. Perlu disosialisasikan cara membaca 5 arah garis pertumbuhan dalam KMS yang benar untuk mendeteksi growth faltering.
  6. Perlu ditingkatkan promosi pemberian ASI eksklusif, melalui penyuluhan sejak pemeriksaan kehamilan untuk mencegah kejadian growth faltering pada bayi umur 2-6 bulan.

DAFTAR PUSTAKA

Alvarado,  Eugenia, Zunzunegui, Delisle, and Osorno. Growth Trajectories Are Influenced by Breast-Feeding and Infant Health in an Afro-Colombian Community. J. Nutr. 135: 2171–2178, 2005.

 

Emond, Alan, Blair,. Emmett,.Drewett. Weight Faltering in Infancy and IQ Levels at 8 Years in the Avon Study of Parents and Children. Pediatrics 2007;120;e1051-e1058

Fernandez, Armida,  Nicola Montero, and Stephen . 1993. Breastfeeding Management. United Nations Children’s Fund, Bombay India. Hal: 9-10

Giovannini M, Riva E, Banderali G, Scaglioni S, Veehof SH, Sala M, Radaelli G, Agostoni C. Feeding practices of infants through the first year of life in Italy. Acta Paediatr 2004;93(4):492-7

King, and Burges. 1996. Nutrition for Developing Countries. Second Edition. Oxford University Press, New York. Hal: 92-93,173,211.

 

Satoto. 1990. Pertumbuhan dan Perkembangan Anak, Pengamatan Anak  0-18 Bulan di Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara. Disertasi Tidak Dipublikasikan,Program Doktor Ilmu Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang. Hal:139-140

Schmidt, Muslimatun,.West, Schultink, Gross and Hautvast. Nutritional Status and Linear Growth of Growth of Indonesian Infants in West Java are Determined More By Prenatal Environment than by Postnatal Factors. J Nutr. 2002. 132: 2202-2207.

Shrimpton,.Victora,  de Onis, Lima, Blossner, and Clugston. Worldwide Timing of Growth Faltering: Implications for Nutritional Interventions. Pediatritcs 2001;107(5).

Suyatno. 2000. Pengaruh Pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) Tradisional terhadap Kejadian ISPA, Diare dan Status Gizi pada 4 Bulan Pertama Kehidupannya, Thesis Tidak Dipublikasikan, Program Pasca Sarjana Universitas Gadjahmada, Yogyakarta.

 

.Unicef  2006. Laporan Tahunan: Anak-anak yang Terabaikan,Terlupakan dan Tak Terjangkau. Http://www. Unicef.org. Diakses 5 Juni 2007.

Unicef. 1993. Breastfeeding Councelling: A Training Course. Unicef, New York USA. Hal:7

WHO. Breastfeeding in The WHO Multicentre Growth Reference Study.   Acta Pædiatrica, 2006; Suppl 450: 16-26

 

2 Responses to “ANALISIS PEMBERIAN ASI TIDAK EKSKLUSIF DAN SUSU FORMULA SEBAGAI PENYEBAB GROWTH FALTERING (GONCANGAN PERTUMBUHAN) PADA BAYI”

  1. Sonya Mccullough Says:

    Hello there, excellent writing. Relieved I recently came across it using Google, to bad it turned out on-page seven of search results. It appears as though your using WordPress in your internet site, you ought to look into this plugin for WordPress at it’s considerably assisted me with my internet site rankings in Google Search. I’d personally hate to see your useful page not be seen by others. Good fortune with your online site.

  2. Nelia Kjelland Says:

    Thanks for the post :)

Leave a Reply

Spam Protection by WP-SpamFree