Awasi Kenaikan Berat Badan Bayi Anda

Sebagai seorang ibu, kita pasti ingin mengusahakan bayi kita selalu naik tiap bulan berat badannya saat ditimbang di Posyandu atau Dokter anak. Kita akan merasa lega, saat mengetahui timbangan bayi kita bertambah dibanding bulan sebelumnya. Ternyata naik timbangan saja belum menjamin bayi kita mengalami pertumbuhan yang sehat. Seorang anak dikatakan berada pada garis pertumbuhan sehat apabila dia mengalami kenaikan skor Z atau berada pada skor Z yang sama pada bulan berikutnya1). Skor Z adalah suatu perhitungan yang membandingkan berat badan subjek dengan median baku rujukan dan simpangan bakunya menurut umur 2). Apabila syarat ini tidak terpenuhi, maka bisa terjadi anak kita akan mengalami gangguan pertumbuhan.

Penelitian yang dilakukan oleh Purnamasari (2008) 3), menunjukkan bahwa bayi yang mengalami kenaikan berat badan, belum tentu mengalami pertumbuhan yang sehat. Kenaikan berat badan yang tidak mencukupi akan membuat bayi mengalami kejadian gangguan  pertumbuhan (growth faltering), yang ditandai dengan penurunan skor Z, dibanding perhitungan pada bulan sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kenaikan 0,36 kg dalam satu bulan pada bayi berumur 2-6 bulan, tidak membuat skor Znya meningkat, malah menurunkan skor Z, yaitu dari rata-rata 0,10 SD BB/U menjadi -0,28 SD BB/U, ini berarti bayi tersebut tidak berada pada pertumbuhan sehat, malah masuk dalam kategori mengalami gangguan pada pertumbuhannya.

Pertumbuhan yang tidak sehat dapat terjadi pada semua tahapan  umur bayi. Riviera J dan Ruel MT (1997)4) melakukan penelitian di  Guatemala, hasilnya  menunjukkan sebanyak 19 – 34 % balita terjadi penurunan skor Z pada 0-3 bulan pertama kehidupan,  12-19 %  pada umur 3  – 6 bulan, 12-25 % antara umur 6 – 9 bulan, dan 40-80 % terjadi penurunan skor Z pada umur 9-12 bulan. Penelitian yang dilakukan oleh Prahesti (2001)5) di Semarang, menemukan pertumbuhan tidak sehat terjadi pada umur 6-12 bulan.

Seorang bayi yang mempunyai pertumbuhan sehat, harus mengalami kenaikan berat badan tiap bulan, dengan jumlah yang mencukupi. Menurut Soetjiningsih (1998) 6), pada bayi dengan umur yang lebih muda, kenaikan berat badan diperlukan untuk pertumbuhan sel-sel dan jaringan tubuh. Pertambahan jumlah sel lemak meningkat pada trimester III kehamilan sampai bayi berusia 6 bulan, setelah itu jumlah sel lemak tidak bertambah banyak. Demikian juga dengan pertumbuhan otak. Pertumbuhan otak tercepat terjadi pada trimester III kehamilan sampai 5-6 bulan setelah lahir. Pada masa ini terjadi pembelahan otak yang pesat, setelah itu pembelahan otak melambat dan terjadi pembesaran sel-sel otak saja. Kenaikan berat badan yang tidak mencukupi akan membuat pertumbuhan dan perkembangan bayi akan terganggu.

World Health Organization telah mengeluarkan Standar Kecepatan Pertumbuhan untuk anak.7). Kenaikan berat badan yang dianjurkan untuk bayi(usia 0-12 bulan) seperti pada tabel berikut:

Pada bulan pertama, pertumbuhannya memang belum cepat, karena bayi sedang dalam tahap adaptasi dengan dunia luar, dimana terjadi proses katabolisme dalam tubuh dan banyak kehilangan cairan baik melalui feses maupun urine. Tetapi untuk bulan berikutnya, kenaikan berat badan sudah lebih besar. Kenaikan berat badan pada bayi laki-laki lebih banyak daripada bayi perempuan. Pada umur yang lebih muda, kenaikan berat badannya harus lebih banyak dibanding bulan berikutnya.

Penelitian yang dilakukan oleh Emond et al (2007)8) di Inggris, menunjukkan bahwa kenaikan berat badan yang tidak mencukupi pada masa  9 bulan pertama kehidupan akan berdampak pada rendahnya IQ ketika umur mencapai   8 tahun. Apabila kenaikan berat badan yang rendah tersebut sampai menurunkan nilai Skor Z, maka rata-rata penurunan 1 Standar Deviasi dari Skor Z akan menurunkan IQ sebesar 0,84 point pada saat anak berada di bangku sekolah. Tentu saja hal ini sangat mengkhawatirkan bagi kita sebagai orangtua. Oleh karena itu awasi kenaikan berat badan anak kita sejak masa bayi supaya tidak terjadi gangguan pertumbuhan yang berdampat buruk bagi masa depannya.

REFERENSI

  1. Shrimpton, Roger, Cesar G.Victora, Mercedes de Onis, Rosangela Costa Lima, Monika Blossner, and Graeme Clugston. Worldwide Timing of Growth Faltering: Implications for Nutritional Interventions. Pediatritcs 2001;107(5)
  2. Supariasa, I Dewa Nyoman, Bachyar Bakri, Ibnu Fajar.2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta. Hal:36-37
  3. Purnamasari, Dyah Umiyarni. 2008. Analisis Pemberian ASI Eksklusif dan Susu Formula Terhadap Kejadian Goncangan Pertumbuhan. Jurnal Kesmas Vol 1 (1) : 2008.
  4. Riviera  J dan Ruel MT. 1997. Growth retardation starts in the first three months of life among rural Guatemalan children. Eur J Clin Nutr: 1997 Feb;51(2):92-96
  5. Prahesti, Amy. 2001. Hubungan pola asuh gizi dengan gangguan pertumbuhan (growth faltering) pada anak usian 0-12 bulan (studi di Kecamatan Sumowono Kabupaten Semarang tahun 2001). Skripsi. Tidak dipublikasikan. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang.
  6. Soetjiningsih. 1998. Tumbuh Kembang Anak. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta. Hal:43-44.
  7. Wold Health Organization. WHO Child Growth Standards: Methods and Development: Growth Velocity Based On Weight, Height, and Head Circumference. Http://www.Who. Int/Childgrowth/Standards/Velocity, diakses 8 Pebruari 2010.
  8. Emond, Alan M, Peter S.Blair, Pauline M. Emmett, Robert F.Drewett. Weight Faltering in Infancy and IQ Levels at 8 Years in the Avon Study of Parents and Children. Pediatrics 2007;120;e1051-e1058

 

 

Tags: , , ,