Minyak Goreng Non Kolesterol ?

Saat ini banyak sekali iklan-iklan minyak goreng, masing-masing menawarkan keunggulan produknya, seperti non kolesterol, 2 x penyaringan dan mengandung macam-macam vitamin. Tapi apakah memang demikian?

Non Kolesterol? 

Minyak goreng berbahan dasar tanaman seperti sawit, kelapa, kacang tanah, kacang kedelai, atau biji bunga matahari pasti tidak mengandung kolesterol. Tapi jika minyak gorengnya dibuat dari bahan hewani, seperti lemak kambing atau lemak sapi yang dikenal dengan sebutan minyak samin barulah mengandung kolesterol.

Hal ini karena kolesterol merupakan golongan lemak yang hanya diproduksi oleh manusia dan hewan.

Tanaman biasanya memproduksi lemak jenis fitosterol, perbedaan dengan kolesterol yaitu mengandung gugus etil pada rantai cabang sterolnya. Kolesterol, jika berlebihan dapat menyebabkan penumpukan plak pada dinding pembuluh darah, sedangkan fitosterol memiliki efek sebaliknya, konsumsinya justru menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Penelitian yang dilakukan oleh Food and Drug Administration (FDA)  Amerika, penambahan  sampai batas 20% dalam suatu produk makanan terbukti tidak akan mempengaruhi kadar kolesterol normal dan efektif untuk menurunkan Low Density Lipoprotein (LDL) – yang sering dikenal sebagai kolesterol jahat.

Namun meskipun minyak nabati tidak mengandung kolesterol, yang patut kita waspadai ketika mengkonsumsinya adalah jangan menggunakan minyak goreng bekas pakai atau jelantah berkali-kali. Hal ini  karena minyak goreng ini mengandung asam lemak bebas yang tinggi dan berwarna kecokelatan, dan sangat berbahaya karena bisa memicu terjadinya kanker.

Minyak Mengandung Vitamin ?

Jika ada produsen minyak goreng mengaku produknya mengandung vitamin, hal itu memang benar, yaitu vitamin A, D, dan E yang alami terdapat dalam tumbuhan.

Namun, yang patut dimengerti adalah karena fungsi minyak goreng adalah sebagai penghantar panas, maka vitamin-vitamin yang ada pada minyak itu akan hilang/rusak dalam proses penggorengan. Kalau pun vitamin tersebut ditambahkan pada saat produksi, tetap saja percuma. Sebab saat dipakai untuk menggoreng vitamin-vitamin tersebut tetap akan hilang/rusak juga.

Adapun Omega 9, itu adalah bahan alami yang memang ada dalam minyak goreng, yang berbentuk cair yang disebut olein. Jadi, kalau dikatakan minyak goreng mengandung omega 9, memang benar, dan bukan merupakan keunggulan yang ditambahkan.

Dua Kali Penyaringan?

Selama ini, minyak goreng yang paling sering kita digunakan adalah yang berbahan dasar kelapa sawit. Pada proses pembuatan minyak goreng dari kelapa sawit terdapat dua fase yang berbeda, yaitu fase padat dan fase cair. Jenis yang padat disebut stearin dengan nama asam lemak yaitu stearat. Sementara, bagian dari minyak yang berbentuk cair disebut olein atau asam oleat, disebut juga omega 9.

Dua kali penyaringan adalah sebutan untuk menjelaskan pemisahan minyak fase padat dari fase cair tadi. Jadi agar stearinnya tidak terbawa, dilakukanlah double fractination atau penyaringan dua kali.

Jika hanya dilakukan satu kali penyaringan, terkadang minyak tersebut masih bisa membeku (biasanya disebut dengan minyak goreng ‘tidur’). Sedangkan dengan dua kali penyaringan, minyak goreng ‘tidur’  tidak akan terjadi, meski disimpan di lemari es sekalipun. Sebenarnya minyak goreng ”tidur”pun tidak mengganggu kesehatan, hanya secara penampakan kurang baik, sedangkan produsen meningkatkan proses penyaringannya yang membuat harga menjadi lebih mahal.

Tags: , , , ,